Kuliner · Magelang

Muntilan, Surga Bakmi Jawa

Walaupun kecil, tetapi selalu memberikan kesan tersendiri. Walaupun terlihat sederhana, tetapi banyak harta karun kelezatan di sana.  Itulah Kota Muntilan. Kota surga bagi pecinta wisata kuliner asli nusantara.

dok. pribadi | Muntilan malam hari.
dok. pribadi | Muntilan malam hari.

Saatnya berpetualang pada malam hari di kota Muntilan. Banyak orang bilang kalau Muntilan minim dengan tempat wisata, kota yang sepi jika sudah lewat maghrib, atau tidak banyak wisata kuliner yang tersedia. Namun, itu semua salah besar. Kota yang termasuk dalam Kabupaten Magelang ini ternyata memiliki wisata malam yang menakjubkan, terutama dari sisi kulinernya. Banyak sekali tempat kuliner malam hari yang pantas dikunjungi di Muntilan. Ada pasar tradisional Muntilan menjelma menjadi kompleks warung makan setiap malam tiba hingga puluhan tenda penjaja Bakmi (sebutan orang Jawa untuk mi) Jawa di seberang supermarket terbesar di Muntilan.

Kali ini, wisata Bakmi Jawa menjadi destinasi utama pada jelajah malam di Kota Muntilan. Setelah bertanya kesana-kemari, maka diputuskan untuk mengunjungi kompleks Bakmi Jawa di Sayangan. Bertempat di jantung kota Muntilan, sejauh 50 meter di pinggir jalan tampak beraneka macam tenda warna-warni bak pelangi.

dok. pribadi | Warna-warni tenda penjaja Bakmi Jawa.
dok. pribadi | Warna-warni tenda penjaja Bakmi Jawa.

Namun, akan terasa kurang jika menyambangi kompleks Bakmi Jawa tanpa mencicipi menu-menu yang dijual di sana. Salah satu menu andalan yang layak dicicipi adalah nasi goreng Magelangan. Sebagai tambahan informasi, di Muntilan dan Magelang jarang sekali ada yang mengenal sebutan nasi goreng Magelangan. Ketika orang Muntilan membuat nasi goreng, mereka otomatis langsung menambahkan mie ke dalam nasi gorengnya.

dok. pribadi | Nasi goreng “Magelangan” + acar + es teh = kebahagiaan
dok. pribadi | Nasi goreng “Magelangan” + acar + es teh = kebahagiaan

Kemudian petualangan pun berlanjut ke salah satu tenda warung makan milik Pak Wardi. Tenda milik Pak Wardi berada diujung utara paling pojok. Tenda ini menjadi tenda paling ramai dari beberapa tenda yang ada di sini. Oleh karena itu, jika Anda hendak membeli salah satu menu makanan di warung Bakmi Jawa, sebaiknya jangan langsung memesan. Akan tetapi tanya dulu antre berapa agar tidak terlalu lama menunggu. Warung makan milik Pak Wardi ini buka dari sehabis petang dan tutup hingga dagangannya habis. “Saya biasanya pasang tenda dari jam 5 sore terus baru bisa jualan paling setelah maghrib. Kalau tutup tergantung bahannya habis saja,” ungkap Pak Wardi. Mengenai menu lain, Pak Wardi menyediakan beberapa menu selain nasi goreng di warung Bakmi Jawanya. “Disini ada bakmi godhog (re: rebus), nasi godhog, dan bakmi goreng,” kata Pak Wardi.

Cara memasak berbagai menu di warung Bakmi Jawa ini juga berbeda dengan cara memasak pada warung sejenisnya saat ini. Sekarang, banyak koki memasak menggunakan kompor gas tetapi Pak Wardi tetap setia menggunakan arang dan kompor tanah liat sebagai alat memasak. Menurut Pak Wardi, memasak dengan kompor tanah liat lebih menambah citarasa dari menu-menu Bakmi Jawa-nya. Memasaknya pun tidak perlu lama. Cukup beberapa menit maka berbagai menu seperti nasi goreng Magelangan, nasi godhog, bakmi godhog, atau bakmi goreng yang siap disantap.

dok. pribadi | Cara memasak di tenda Pak Wardi yang masih menggunakan kompor tanah liat.
dok. pribadi | Cara memasak di tenda Pak Wardi yang masih menggunakan kompor tanah liat.

Wisata kuliner pada Sabtu (29/3) malam lalu berhasil membuktikan bahwa benar kata kebanyakan orang tentang kelezatan menu-menu Bakmi Jawa di Muntilan. Salah satunya adalah nasi goreng Magelangan di sini yang bisa dibilang sangat enak. Bumbu rempahnya terasa dengan kuat yang membuatnya begitu nikmat. Jika anda memang pecinta kuliner dan penasaran dengan asal-usul Magelangan serta menu-menu lain Bakmi Jawa, kompleks Bakmi Jawa di Sayangan ini adalah pilihan yang tepat untuk memuaskan lidah anda.

Iklan

3 thoughts on “Muntilan, Surga Bakmi Jawa

  1. Hmmm, mungkin awal mula Jogja “dijajah” kuliner bakmi godhog dan magelangan itu bermula dari serbuan pendatang dari Muntilan-Magelang. Karena toh mie itu kan kuliner dari negeri Tiongkok dan di Muntilan-Magelang kan konsentrasi warga keturunan Tiongkok lebih besar dibandingkan Jogja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s