JEPANG

5 Reasons To Love Tokyo

Setiap kota memiliki keunikannya tersendiri. Pun dengan ibu kota Jepang ini.

Sebelum menginjakkan kaki di kota metropolitan bernama Tokyo ini, saya tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Lalu apa saja yang membuat saya jatuh cinta dengan Tokyo?

Tata Kota

Asakusa, Tokyo
Asakusa, Tokyo

DSCF3402Dalam bayangan saya, Tokyo tak ubahnya Jakarta. Kota metropolis yang dijejali oleh gedung-gedung pencakar langit di setiap sisinya. Benar saja, Tokyo ternyata juga dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit. Hanya saja, kota ini tampak lebih tertata rapi. Bangungan-bangunan pencakar langit itu berbaris layaknya rumah-rumah di perumahan elit.

Selain itu, sejauh mata memandang saya tidak menemukan pemukiman kumuh yang berdampingan dengan gedung-gedung mega besar itu. Di kota ini, semua gedung tampak sama. Sama-sama tinggi, sama-sama bagus dan rapinya.

Sejak pertama kali melintasi kota ini dan akhirnya tinggal selama 2 hari di sini, saya benar-benar jatuh cinta dengan tata kota Tokyo. Kota ini tidak sekadar rapi dan lengkap akan fasilitas, tetapi kota ini juga dilengkapi dengan pedestrian yang memanjakan para pejalan kaki dan pengendara sepeda. Siapapun yang berjalan kaki atau bersepeda mengelilingi kota ini pasti akan merasa aman.

Taman Kota

DSCF3335

DSCF3337
Sore hari setelah kedatangan saya di Tokyo, saya dan beberapa teman memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel. Oh ya, hotel yang disewa panitia JICE untuk peserta Jenesys adalah  Hotel East 21 Tokyo. Lokasi tepatnya ada di Koto-Ku, Tokyo. Karena sejak awal tujuan kami hanya sekadar jalan-jalan di sekitar hotel, maka kami benar-benar menikmati sore itu dengan menyusuri trotoar di sekitar hotel. Setelah berjalan kaki sekitar 1 km, kami menemukan sepetak taman yang lokasinya berada di perempatan jalan. Pohon sakura memagari taman ini. Sayangnya, saat itu masih winter jadi belum ada bunga sakura yang mekar.
Taman yang tidak terlalu luas itu terletak di tengah kota. Walaupun cukup kecil, namun taman ini cukup lengkap fasitilitasnya. Selain bisa digunakan sebagai lapangan, taman ini juga menyediakan wahana bermain anak seperti ayun-ayun, pipa panjat, dan lain sebagainya. Sementara bagi pengunjung yang ingin bersantai juga bisa karena disediakan bangku-bangku taman.
DSCF3350
Menemukan taman di tengah-tengan kota seperti ini adalah hal yang rasanya susah saya jumpai di negara asal. Negara ini, meski terkenal dengan kemajuan teknologinya ternyata anak-anak di sana masih banyak yang lebih memilih menghabiskan waktu bermain bersama teman di taman daripada sibuk dengan game di gadget masing-masing. Lagi-lagi jadi ingat anak-anak di lingkungan rumah dan kos dan seketika merasa miris.
Trotoar Lebar
 DSCF3367
Poin yang satu ini sepertinya berlaku di (hampir) setiap kota di Jepang. Negara ini selain terkenal dengan sebutan matahari terbit dan bunga sakuranya, juga terkenal dengan kebiasaan penduduknya yang kemana-mana berjalan kaki. Oleh karena itu, nggak heran pemerintah di sini membangun trotoar dengan cukup lebar. Kalau dibangdingin dengan trotoar di Jogja sih sekitar 2-3 kali lipat lebarnya.
Selain untuk pejalan kaki, trotoar ini juga berfungsi sebagai jalan untuk pesepeda. Jadi jangan harap menemukan kemacetan di jalur mobil, sebab di sini yang macet justru trotoarnya. Terlebih pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. Warga Jepang secara optimal memanfaatkan trotoar ini.
Disiplin
DSCF3468
Pada malam harinya (24/2) kami dapat free time dari panitia. Karena free time, jadi kami diizinkan untuk kemana saja yang penting balik hotel maksimal pukul 10.00 malam waktu Jepang. Waktu bebas tersebut kami manfaatkan untuk ke Shibuya, pusat perbelanjaan di Tokyo.
Pertama kali keluar dari stasiun di Shibuya saya langsung tercengang. Iya, kampungan banget sih. Tapi ya yang namanya pertama kali ke luar negeri terus malam itu bisa nginjakin kaki di tengah kota super ramai yang biasanya hanya bisa kulihat lewat TV atau film. Eh malam itu saya bisa berdiri di sana.
Semakin tercengang lagi saat melihat orang-orang di sini meski ramai tetap disiplin. Nggak ada tuh nyebrang jalan nggak di zebra cross. Nggak ada juga macet-macetan kendaraan. Padahal ya kalau dibandingin sama Malioboro ramainya berkali-kali lipat. Tapi entah mengapa orang-orang di sini disiplin banget. Mau nyebrang jalan nunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Sekalipun nggak ada mobil yang lewat, tetep tertib! Ah semoga di Indonesia segera bisa seperti ini!
No Macet
DSCF3307
Saya nggak paham lagi, kenapa kota metropolitan sekelas Tokyo nggak macet sama sekali. Bahkan kalau dibandingkan dengan kota asal saya, Magelang, jalanan di kota ini jauh lebih lengang. Nggak ada macet dan udaranya terasa seolah tanpa polusi. Seger banget. Poin terakhir ini yang bikin saya susah move on. Rasanya pengen lama-lama tinggal di negeri Sakura ini.

Selain 5 alasan tersebut sebenarnya masih ada alasan lainnya. Secepatnya akan saya update pada part selanjutnya! 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s